Rahmatan Lil Alamin: Tadabbur
Tampilkan postingan dengan label Tadabbur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadabbur. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2018

Masjidil Aqsha, Inikah Keutamaanmu yang Sangat Luar Biasa Itu?

 
Masjidil Aqsha secara harfiah diartikan sebagai ‘masjid terjauh’. Masjidil Aqsha disebut juga dengan Baitul Maqdis atau al-Ḥaram asy-Syarīf, atau al-Ḥaram al-Qudsī asy-Syarīf, Tanah suci yang mulia. Dalam perkembangannya, Masjdil Aqsha adalah nama untuk sebuah kompleks al-haram asy-Syarif di Palestina yang saat ini di dalamnya terdiri dari beberapa masjid kecil.

Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis memiliki keutamaan yang sangat luar biasa dan keberkahan yang begitu banyak. Keterangan tentang itu bisa kita jumpai dalam al-Quran dan as-Sunnah.


Satu: Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam

Hampir selama enam atau tujuh belas bulan Masjidil Aqsha menjadi kiblat umat Islam, setelah itu Allah ‘Azza wa Jalla merubah kiblat umat Islam ke arah Ka’bah Baitullah al-Haram.

Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata,

صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا ثُمَّ صُرِفْنَا نَحْوَ الْكَعْبَةِ

“Kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menghadap Baitul Maqdis enam belas bulan atau tujuh belas bulan, kemudian kami dipalingkan menghadap Ka’bah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Dua: Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang pertama ada di Bumi

Masjidil Aqsha adalah Masjid Kedua yang ada di bumi setelah Masjidil Haram. Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهِ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيْهِ وَفِيْ رِوَايَةٍ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ فَهُوَ مَسْجِدٌ

“Aku bertanya, ‘Wahai, Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram’.

Aku bertanya lagi, ‘Kemudian (masjid) mana?’

Beliau menjawab, ‘Kemudian Masjidil Aqsha’.

Aku bertanya lagi, ‘Berapa jarak antara keduanya?’

Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun. Kemudian dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu, maka shalatlah (di sana), karena keutamaan ada padanya’.

Dan dalam riwayat lainnya, ‘Di manapun (waktu) shalat mendatangimu, maka shalatlah (di sana), karena ia adalah masjid.’ (HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Dzar)

Tiga: Masjidil Aqsha diberkahi di dalam dan sekitarnya

Seluruh ulama sepakat bahwa Masjidil Aqsha adalah salah satu tempat yang sangat diberkahi. Masjidil Aqsha adalah masjid yang jaminan keberkahannya pasti. Allah berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)

Dalam ayat tersebut, Allah menggunakan kalimat menarik yang membuat para pembacanya untuk terus berpikir. Seandainya saja untuk Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha tidak ada keutamaan selain dari ayat ini, ini sudah sangat cukup untuk menunjukkan keberkahan yang ada di dalamnya. Sebab, jika sekelilingnya saja diberkahi, tentu berkah yang ada di tengahnya berlipat lebih banyak. (Ittihaf al-Ahsha bi Fadhli al-Masjid al-Aqsha, Syamsuddin as-Suyuti, 95)


Empat: Masjidil Aqsha adalah tempat Isra’ Nabi

Masjidil Aqsha adalah masjid kedua tempat berisra’ rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa rasulullah bersabda,

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ

“Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya.”

Beliau bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis.”

Beliau bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar.” (HR. Muslim No. 234)


Lima: Masjidil Aqsha doa dan Harapan Nabi Musa

Salah satu sikap pengagungan nabi Musa terhadap tanah Suci Masjidil Aqsha adalah dengan berdoa kepada Allah agar didekatkan dengan Masjidil Aqsha saat kematiannya.

فسأل الله أن يدنيه من الأرض المقدسة رمية بحجر ، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم- فلو كنت ثَمَّ لأريتكم قبره إلى جانب الطريق، تحت الكثيب الأحمر

“Musa memohon agar ia didekatkan dengan tanah suci (Bait al-Maqdis) sedekat lemparan batu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika aku berada di sana, tentu akan aku tunjukkan kuburannya di sebuah tepian jalan di bawah gundukan tanah merah.’” (HR. Al-Bukhari No. 1339)


Enam: Masjidil Aqsha dan janji kemenangan

Abu Idris berkata, aku mendengar Auf bin Malik berkata,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مَوْتِي ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِينَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا ثُمَّ فِتْنَةٌ لَا يَبْقَى بَيْتٌ مِنْ الْعَرَبِ إِلَّا دَخَلَتْهُ ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُونُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الْأَصْفَرِ فَيَغْدِرُونَ فَيَأْتُونَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِينَ غَايَةً تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا

Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi perang Tabuk saat beliau sedang berada di tenda terbuat dari kulit yang disamak. Beliau bersabda,

“Hitunglah enam perkara yang akan timbul menjelang hari Kiamat. Kematianku, dibebaskannya Baitul Maqdis, kematian yang menyerang kalian bagaikan penyakit yang menyerang kambing sehingga mati seketika, melimpahnya harta hingga ada seseorang yang diberi seratus dinar namun masih marah (merasa kurang), timbulnya fitnah sehingga tidak ada satu pun rumah orang Arab melainkan akan dimasukinya, dan perjanjian antara kalian dengan bangsa Bani Al-Ashfar (Eropa) lalu mereka mengkhianati perjanjian kemudian mereka mengepung kalian di bawah delapan bendera (panji-panji) perang yang pada setiap bendera terdiri dari dua belas ribu personil.” (HR. Al-Bukhari No. 2940)


Tujuh: Anjuran menziarahi Masjidil Aqsha

Para ulama sepakat atas dianjurkannya mengadakan perjalanan/safar dalam rangka menziarahi Masjidil Aqsha dan shalat di dalamnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga Masjid; Masjidku ini (Masjid Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjidil Aqsha . (HR. Muslim No. 2475)


Delapan: Shalat di Masjidil Aqsha Pahalanya berlipat

Selain berdasarkan waktu, Allah juga melipatkgandakan pahala sebuah ibadah berdasarkan tempat ibadahnya. Allah melipatgandakan ibadah shalat yang dilaksanakan di Masjidil Aqsha —setelah Masjidil Haram— dibanding ibadah shalat yang dilaksanakan di masjid lain.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu ia berkata, Ketika kami berada di majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada yang bertanya: Mana yang lebih utama Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Baitul Maqdis?, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صلاة في مسجدي أفضل من أربع صلوات فيه ولنعم المصلى هو، وليوشكن أن يكون للرجل مِثْل شطن فرسه من الأرض حيث يَرى منه بيت المقدس; خير له من الدنيا جميعاً

“Mendirikan shalat di masjidku lebih baik dari empat kali shalat di dalamnya, dan alangkah baiknya orang yang shalat tersebut. Hampir saja seseorang mendapatkan tanah seperti panjangnya tali kekang kudanya dengan melihat Baitul Maqdis: Lebih baik baginya dari pada dunia semuanya”. (HR. Al-Hakim, 4/509, dishahihkan dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dan al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah No. 2902)


Sembilan: Kutamaan Shalat di Masjidil Aqsha

Dari Abdullah bin Amru, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ

“Ketika Sulaiman bin Daud selesai membangun Baitul Maqdis ia meminta Allah tiga hal; hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, kerajaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang setelahnya, dan tidak ada seorang pun yang mendatangi masjid ini kecuali untuk shalat, melainkan akan keluar semua dosanya sebagaimana bayi yang dilahirkan ibunya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dua perkara pertama telah dikabulkan, dan aku berharap yang ketiga juga telah diberikan.’” (HR. Ibnu Majah No. 1398)

Sepuluh: Masjidil Aqsha adalah lokasi Mahsyar

Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis merupakan bagian dari lokasi mahsyar. Mahsyar adalah tempat dikumpulkannya seluruh manusia untuk proses hisab setelah terjadinya kiamat. Dari Maimunah binti Saad pembantu rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

يَا نَبِيَ الله أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ. فَقَالَ: أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ

“Wahai Nabi Allah, berikan aku fatwa tentang Baitul Maqdis.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Baitul Maqdis) Adalah tempat Mahsyar (tempat berkumpulnya manusia untuk dihisab) dan Mansyar (tempat dibangkitkannya manusia setelah kematian).” (Fadha-ilusy Syam, Ar-Rab’i, Dishahihkan oleh al-Albani)


Sebelas: Masjidil Aqsha masuk wilayah Syam. Syam adalah tempat tegaknya Khilafah Islamiyah

Dalam sebuah hadits Abdullah bin Hawalah al-Azdi yang cukup panjang disebutkan, Rasulullah menyeru kepada Ibnu Abdullah bin Hawalah tentang tanda-tanda akhir zaman, beliau bersabda,

يَا ابْنَ حَوَالَةَ إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ فَقَدْ دَنَتْ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَايَا وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّاسِ مِنْ يَدَيَّ هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ

“Hai Ibnu Hawalah! Bila kau melihat khilafah turun ditanah suci maka telah dekatlah gempa bumi-gempa bumi, bencana, dan hal-hal besar, dan kiamat saat itu lebih dekat pada manusia melebihi tanganku ini dari kepalamu.” (HR. Ahmad No. 21449)

Selain keutamaan-keutamaan di atas, masih banyak lagi keutamaan dan keistimewaan Masjidil Aqsha /Baitul Maqdis, dan keistimewaan serta keutamaan bumi Syam secara keseluruhan. Uraian tentang itu bisa dibaca dalam berbagai tulisan para ulama salaf maupun kontemporer tentang Masjidil Aqsha dan bumi Syam. Wallahu a’lam. (Shodiq/dakwah.id)
 
Source: https://www.dakwah.id/masjidil-aqsha-inikah-keutamaanmu

Tadabur Hujan, Karunia dan Rahmat Allah yang Tak Tergantikan

 
Hujan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai ‘Titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan.’ Makna ini sama dengan makna kata al-matharu dalam bahasa arab. Selain bermakna asli, kata hujan juga memiliki makna kiasan, tidak selalunya dimaknai sebagai titik-titik air yang berjatuhan dari udara.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani, bahwa ia berkata,

صلى لنا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صلاةَ الصبحِ بالحُدَيْبِيَةِ، على إثرِ سماءٍ كانت مِن الليلةِ، فلما انصرفَ، أقبلَ على الناسِ، فقال:

هل تدرون ماذا قال ربُّكم؟

قالوا: اللهُ ورسولُه أعلمُ.

قال: أصبحَ مِن عبادي مؤمنٌ وكافرٌ، فأما مَن قال: مُطِرْنا بفضلِ اللهِ ورحمتِه، فذلك مؤمنٌ بي وكافرٌ بالكوكبِ،

وأما مَن قال: بنَوْءِ كذا وكذا، فذلك كافرٌ بي ومؤمنٌ بالكوكبِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan Shalat Subuh mengimami kami di Hudaibiyah pada bekas hujan yang terjadi pada malam hari. Selesai shalat, beliau menghadap ke arah orang-orang dan berkata:

‘Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Tuhan kalian?’

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya.’


Beliau bersabda: ‘Allah berfirman: ‘Pada pagi ini di antara para hamba-ku ada yang beriman kepada-ku dan ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Hujan turun hujan kepada kami dengan karena Allah dan rahmat-Nya’, maka orang tersebut adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kami berkat bintang ini dan ini’, maka orang tersebut adalah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada kepada bintang’.” (HR. Al-Bukhari: 846)


PENELITIAN PARA ILMUWAN TENTANG HUJAN

Turunnya hujan dari awan masih menjadi isu ilmiah yang tidak jelas rinciannya. Adapun yang para ilmuwan ketahui bahwa Bumi adalah planet terkaya di tata surya dalam hal air. Diperkirakan Bumi berisi 1.360-1.385 juta km kubik. Adapun pembagiannya, samudera dan lautan (97,2%), sedangkan air tawar hanya mewakili 2,8% dari jumlah total air di Bumi.

Sebagian besar air tersebut (2,052% – 2,15%) tersimpan dalam lapisan es tebal yang menutupi kedua kutub Bumi dan puncak gunung. Sisanya disimpan dalam batuan dari kerak Bumi (0,27%), danau air tawar (0,36%), dalam bentuk kelembaban di tanah dan atmosfer (0,36%), serta air yang mengalir di sungai dan anak sungai (0,0047%).

Allah Yang Maha Kuasa mengeluarkan air dari dalam Bumi melalui gunung berapi, kemudian membagikannya sesuai dengan kebijakan-Nya. Allah juga memasukkannya ke dalam siklus yang sempurna antara Bumi dan langit.

Kalau bukan karena siklus ini, air di permukaan Bumi akan kotor. Sebab, air tersebut mengandung miliaran makhluk hidup, baik yang hidup maupun yang masi di banyak tempat yang dapat mengotori air jika tidak dibuat siklus mengelilingi Bumi.

Allah Yang Maha Kuasa menetapkan bahwa sejumlah tertentu dari air harus berada di Bumi dan didistribusikan secara akurat ke samudera, laut, danau, dan sungai. Allah juga menyimpan air dalam batuan kerak Bumi, menjaganya dalam bentuk es di puncak gunung dan dua kutub Bumi, serta menyebarkannya dalam wujud kelembaban di udara dan tanah. Semua ini terjadi menurut sistem tertentu yang sesuai dengan kebutuhan hidup di Bumi sekaligus menjaga keseimbangan panas pada permukaan Bumi dari satu tempat ke tempat yang lain; dari satu musim ke musim yang lain.

Jika takaran air tersebut lebih sedikit saja, maka akan menutupi Bumi (banjir). Sebaliknya, jika takaran kurang sedikit saja, maka air tersebut tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup di Bumi.

Panas matahari menguapkan air dari permukaan laut, lautan, sungai, danau, kolam, rawa-rawa, daerah dingin (es), serta air tanah, nafas manusia, hewan, dan transpirasi tanaman, termasuk berbagai sumber lainnya, kemudian membawa uap ini ke lapisan atas atmosfer.

Uap tersebut akan kehilangan panas secara bertahap karena berpindah ke tempat yang lebih tinggi dan tekanan yang kian menurun. Hal tersebut memungkinkan uap air untuk mulai mengembun dari wujud gas menjadi butir-butir air. Dengan demikian, air yang naik dari Bumi akan kembali lagi ke Bumi dalam bentuk hujan, hujan es, salju, kabut, atau embun.

Sekitar 380.000 km kubik air di Bumi menguap setiap tahun. Sebagian besar dari jumlah tersebut (sekitar 320.000 km kubik) berasal dari lautan dan samudera. Sedangkan sisanya (60.000 km kubik) berasal dari darat.

Air kemudian akan kembali ke Bumi dengan jumlah angka yang berbeda (284.000 km kubik kembali ke lautan dan samudera, sementara 96.000 km kubik jatuh ke tanah). Adapun jumlah keduanya (380.000 km kubik) akan bermuara ke lautan dan samudera.


TEORI PARA ILMUWAN TENTANG PROSES TERJADINYA HUJAN

Seperti disebutkan sebelumnya, proses hujan masih belum diketahui dengan rincian ilmiah yang akurat. Peristiwa itu terdiri dari serangkaian proses yang tidak bisa secara langsung diamati. Oleh karena itu, para ilmuwan mengembangkan sejumlah hipotesis dan teori-teori untuk menjelaskan fenomena ini.

Beberapa teori tersebut ada yang menyebutkan bahwa hujan dipengaruhi gerakan angin darat (angin yang berembus dari darat ke laut) di mana terjadi peningkatan suhu di atas permukaan Bumi.

Teori yang lain merujuk pada arus listrik di antara awan yang berbeda lalu bertemu dan saling bertabrakan. Teori lainnya menyebutkan adanya pengaruh matahari pada lapisan atmosfer.

Namun demikian, satu-satunya faktor utama dari itu semua adalah kehendak Sang Pencipta, seperti telah jelas ditunjukkan dalam hadits Nabi.


Diketahui bahwa prosentase air di awan sangat kecil dan tidak melebihi 2% dari air di atmosfer, yang berjumlah tidak lebih dari 0,36% dari jumlah total air di Bumi. Adapun jumlah air di atmosfer diperkirakan sebanyak 15.000 juta km kubik.

Air ditemukan di zona iklim Bumi dalam wujud tetesan yang sangat kecil (berdiameter kurang dari satu micron). Tetesan ini menempel di udara karena viskositas dan tegangan permukaan yang intens. Hal ini terjadi di awan biasa yang dibawa oleh angin tanpa hujan. Kecuali jika bertemu dua awan; awan panas dan dingin atau awan bermuatan listrik positif dan negatif.


Hal ini juga dapat terjadi melalui benda padat berukuran mikro dalam debu yang dibawa oleh angin dari permukaan Bumi untuk membuahi awan dan mempercepat kondensasi uap air dan turunnya hujan dengan izin Allah Yang Maha Kuasa, dan kapanpun Dia berkehendak.


HUJAN ADALAH KUASA ALLAH, SUDAH DITERANGKAN DALAM AL-QURAN

Hujan biasanya jatuh berwujud tetesan kecil, tapi terkadang juga jatuh berupa tetesan besar (diameter 4-8 mm). tetesan besar ini terbentuk sebagai akibat dari kondensasi uap air pada inti kondensasi dari debu yang relatif besar, yang secara bertahap membesar hingga mencapai ukuran tersebut.

Semua proses tersebut, baik secara individual maupun kolektif membutuhkan takdir dan tidak dapat terjadi sembarangan atau secara kebetulan. Ini membuktikan bahwa pembentukan hujan adalah salah satu rahasia Ilahi yang belum dipahami sepenuhnya oleh manusia.

Akan tetapi, kekuatan Ilahi dalam wujud matahari tampak jelas dalam proses ini, khususnya dalam mendistribusikan hujan di Bumi. Semua hal tersebut adalah kehendak Sang Pencipta.

Jika anda buka al-Quran, anda akan menemukan banyak ayat yang menginformasikan betapa vitalnya keberadaan hujan dalam ekosistem alam ini. Allah berfirman,



وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf: 57)


وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22)



يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, ( ) Dialah yang menjadikan Bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)



وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 99)



الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّىٰ

“Yang telah menjadikan bagimu Bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di Bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (QS. Thaha: 53)



وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di Bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. Al-Mukminun: 18) (Disadur dari buku Miracles of al-Quran & as-Sunnah (Edisi Terjemah), Dr. Zakir Naik, Penerbit Aqwam, 113-120) [shodiq/dakwah.id]
 
Source: https://www.dakwah.id/hujan-karunia-rahmat-allah